psikologi memaafkan diri sendiri

seni berdamai dengan keputusan salah masa lalu

psikologi memaafkan diri sendiri
I

Pernahkah kita sedang bersiap untuk tidur, mata sudah terpejam, suasana kamar sudah sangat tenang, lalu tiba-tiba otak kita memutar ulang sebuah kejadian memalukan dari lima tahun lalu? Atau mungkin, yang terputar adalah sebuah keputusan fatal di masa lalu yang membuat kita kehilangan uang, kesempatan, atau seseorang yang sangat kita sayang.

Kita berguling, memeluk guling lebih erat, dan membatin, "Kenapa sih saya dulu bodoh banget?"

Selamat datang di klub. Kita semua pernah mengalaminya. Menghakimi keputusan buruk yang pernah kita buat di masa lalu seolah menjadi hobi rahasia umat manusia. Tapi, mari kita bedah fenomena ini bersama-sama secara perlahan. Kenapa otak kita begitu suka menyiksa kita dengan masa lalu?

II

Untuk memahami kebiasaan masokis otak ini, kita harus mundur sedikit ke zaman purba. Secara evolusioner, otak kita sebenarnya tidak dirancang untuk membuat kita bahagia. Otak kita dirancang untuk satu tujuan utama: membuat kita bertahan hidup.

Di sinilah konsep negativity bias bermain.

Bayangkan leluhur kita di zaman batu. Sebut saja Budi Purba. Budi pernah salah memilih rute saat berburu dan hampir saja dimakan harimau sabertooth. Agar Budi tidak mengulangi kesalahan konyol itu keesokan harinya, otaknya mencetak ingatan teror tersebut dalam resolusi 4K. Otak kita mencatat kesalahan jauh lebih kuat dan lebih detail daripada keberhasilan, karena di alam liar, lupa akan kesalahan berarti mati.

Masalahnya, kita sekarang hidup di dunia modern. Harimau kita hari ini adalah salah kirim email ke klien, salah memilih pasangan, atau mengambil keputusan investasi yang bodoh. Ancaman fisik yang mematikan itu sudah tidak ada, tapi alarm di otak kita tetap berteriak dengan volume yang persis sama.

III

Saat kita terjebak dalam siklus penyesalan ini, ada bagian di otak kita yang bernama Default Mode Network (DMN) yang sedang menyala terang benderang. DMN ini sangat aktif saat kita sedang melamun, merefleksikan diri, atau memikirkan masa lalu dan masa depan.

Ketika kita terus-menerus menghukum diri sendiri atas kesalahan masa lalu, DMN kita ibarat kaset rusak yang memutar lagu sedih berulang-ulang tanpa henti. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini disebut rumination atau ruminasi.

Lalu, di tengah penderitaan itu, datanglah saran klise dari teman atau buku motivasi: "Udah, maafin aja diri kamu sendiri. Ikhlasin aja."

Kedengarannya sangat masuk akal dan gampang banget, kan? Tapi kenapa praktiknya sesulit memindahkan gunung? Apakah karena kita diam-diam memang suka menderita? Atau, jangan-jangan ada mekanisme psikologis lain yang secara aktif memblokir kemampuan kita untuk move on?

Sebenarnya, ada satu kepingan puzzle sains yang sering kita lewatkan saat bicara soal memaafkan diri sendiri.

IV

Ini dia rahasianya. Alasan terbesar kita selalu gagal memaafkan diri sendiri adalah karena kita menggunakan data hari ini untuk menghakimi diri kita di masa lalu.

Dalam sains perilaku, hal ini dikenal sebagai hindsight bias. Kita merasa, "Seharusnya saya tahu kalau keputusan itu bakal berujung bencana." Padahal kenyataannya, pada detik itu, di masa lalu itu, kita benar-benar tidak tahu.

Kita harus memisahkan "Diri Masa Lalu" dengan "Diri Masa Kini". Diri masa lalu kita mengambil keputusan berdasarkan kapasitas emosional, informasi, dan mental model yang ia miliki persis pada saat itu. Mungkin saat itu kita sedang sangat stres, kurang pengalaman, butuh uang, atau sekadar naif.

Memaafkan diri sendiri bukanlah bentuk pembelaan diri. Ini bukan soal lari dari tanggung jawab atau membenarkan kelakuan buruk. Secara saintifik, kemampuan memaafkan diri sendiri adalah bentuk cognitive flexibility atau fleksibilitas kognitif.

Ini adalah kemampuan otak untuk meng-update software mentalnya. Kita melatih otak untuk berkata, "Oke, eksperimen yang itu gagal, datanya sudah saya catat, mari kita buat hipotesis baru untuk masa depan."

Memaafkan diri sendiri berarti kita berhenti melihat sebuah kesalahan masa lalu sebagai identitas kita, dan mulai melihatnya hanya sebagai sekadar data.

V

Berdamai dengan masa lalu tidak berarti kita akan menghapus memori menyakitkan tersebut. Ingatan itu mungkin akan tetap ada di sana, tapi sengatannya yang perlahan hilang.

Saat teman-teman kembali teringat pada keputusan buruk di masa lalu, cobalah untuk tidak melihatnya dari kacamata seorang hakim yang garang dan siap memukul palu hukuman. Mulai sekarang, cobalah melihatnya dari kacamata seorang ilmuwan yang sedang meneliti sebuah eksperimen masa lalu dengan penuh rasa ingin tahu dan empati.

Kita semua lahir ke dunia ini tanpa manual book. Kita semua hanya sedang meraba-raba cara menjalani hidup sehari-hari. Sangat wajar jika kita sesekali tersandung, jatuh, dan membuat keputusan yang mengerikan.

Jadi, malam ini, jika otak kita tiba-tiba memutuskan untuk kembali memutar episode "Kesalahan Paling Bodoh Dalam Hidup", tarik napas panjang. Tersenyum saja pada memori itu.

Katakan pada diri kita sendiri, "Ya, itu memang keputusan yang buruk. Tapi kita sudah belajar banyak dari sana."

Mari beristirahat, teman-teman. Diri masa lalu kita sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa dengan bekal yang ia punya, dan diri masa kini kita sangat berhak mendapatkan kedamaian.